Reader Comments

tahlilan

by fahri muhammad (2018-10-06)


بسم الله الر ححمن الرحيم
Akhir Akhir ini umat Islam siapatahu telah lelah menurut kupasan klassik yang aktif di Indonesia diantaranya perihal yasinan dan tahlilan. Silang pendapat antara asosiasi yang baiklah sampai-sampai membuat yasinan dan tahlilan, berlandaskan grup yang enggak setuju karena yasinan tahlilan justru memperhitungkan apabila tahlilan dan yasinan ialah masalah bidah dan kesesatan,hingga masa ini tinggal terjadi,yang bekerja mangsa yaitu komune biasa yang belum faham devinisi kebohongan dan belum membaui bahwa lengkap yang dibaca dan yang dijalani didalam pengamalan tahlilan dan yasinan ada tumpuan rumusan baik bersumber Al Quran alias Al Hadits.

Dimana-mana patut di padat pengajian-pengajian awam ta’lim-ta’lim berkala per kali menggunjingkan bidah alkisah spesifik yasinan dan tahlilan berprofesi semisal menelurkan berujar apabila yasinan dan tahlilan ialah kebohongan dholalah berdasarkan tak sempat ada seumpama berasal Rasulullah dan para sahabat, yasinan dan tahlilan adalah budaya hindu yang dimodifikasi menurut ideologi Islam, justru yasinan dan tahlilan sudah mengarah mengenai kesyirikan,dan pemainnya berbahaya menyelap kedalam Neraka.

Sebelum kita gagahberani berujar apabila tahlilan dan yasinan yakni bid’ah,ada bahagianya sampai-sampai dahulu kita mengetahui/mencari tahu devinisi bidah menurut para cerdikpandai barulah kita mengejar tahu devinisi tahlilan dan yasinan,setelah kita tahu devinisi keduanya hangat kita menginterpretasikan apakh tahlilan dan yasinan tersebut dusta dholalah,atau sunnah.?
DEVINISI BID’AH
imam Syafi’i rahimahullah,seorang ulama besar pendiri madzhab syaafi’iyyah,mendefinisikan, bidah sbb,
ما أحدث يخالف كتابا أو سنة اأو أثرا أو اجماعا, فهذه البدعة الضلالة. وما أحدث من الخير, لا خلاف فيه لواحد من هذه الأصول, فهذه محدثة غير مذمومة.
“ bidah ialah apa-apa yang diadakan yang menyelisihi buku Allah dan sunah-NYA, atsar, alias ijma’ lalu inilah kebohongan yang batal mengenai ayat cakap yang diadakan, yang bukan menyelisihi keliru satu pun prinsip-prinsip ini maka bukan terkandung surah anyar yang tercela.”

penghantar keluarga Rojab rahimahullah berisi kitabnya yang bermahkota “ Jami’ul Ulum wal Hikam “ berujar apabila bidah adalah,
ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً ،

“ kebohongan adalah apa saja yang dibuat tanpa landasan syari’at. jika punya tumpuan postulat bernas syari’at, lalu bukan bidah dengan cara syari’at, meskipun termasuk dusta padat tinjauan bahasa.”

bernas makna dusta yang dikemukakan oleh para cerdikpandai di berlandaskan bukankah piawai difahami kalau unit hangat namalain unit yang tidak tampak contohnya berpokok Rasulullah SAW itu dibagi dua merupakan unit baru yang sama sangat enggak memiliki alasannya berkualitas syare’at dan perkara baru yang terlihat dasarnya bernas syare’at. keluarga Rojab menentukan apabila hal hangat yang terdapat latarbelakangnya antep syare’at, itu tak cakap dipandang dusta dengan cara syare’at walaupun aktual ia terkandung kebohongan secara bahasa, dan andaikan sebuah ibadah disangka kebohongan selaku bahasa,tapi tak dengan cara syare’at,maka amalan tersebut kuasa dilakukan,selagi enggak memiliki nash yang tegas jelas melarangnya.

sesudah kita tahu devinisi kebohongan menurut para ‘ulama,sekarang yuk kita lihat devinisi tahlilan dan yasinan.
بسم الله الر ححمن الرحيم
Akhir Akhir ini umat Islam siapatahu telah lelah menurut kupasan klassik yang aktif di Indonesia diantaranya perihal yasinan dan tahlilan. Silang pendapat antara asosiasi yang baiklah sampai-sampai membuat yasinan dan tahlilan, berlandaskan grup yang enggak setuju karena yasinan tahlilan justru memperhitungkan apabila tahlilan dan yasinan ialah masalah bidah dan kesesatan,hingga masa ini tinggal terjadi,yang bekerja mangsa yaitu komune biasa yang belum faham devinisi kebohongan dan belum membaui bahwa lengkap yang dibaca dan yang dijalani didalam pengamalan tahlilan dan yasinan ada tumpuan rumusan baik bersumber Al Quran alias Al Hadits.

Dimana-mana patut di padat pengajian-pengajian awam ta’lim-ta’lim berkala per kali menggunjingkan bidah alkisah spesifik yasinan dan tahlilan berprofesi semisal menelurkan berujar apabila yasinan dan tahlilan ialah kebohongan dholalah berdasarkan tak sempat ada seumpama berasal Rasulullah dan para sahabat, yasinan dan tahlilan adalah budaya hindu yang dimodifikasi menurut ideologi Islam, justru yasinan dan tahlilan sudah mengarah mengenai kesyirikan,dan pemainnya berbahaya menyelap kedalam Neraka.

Sebelum kita gagahberani berujar apabila tahlilan dan yasinan yakni bid’ah,ada bahagianya sampai-sampai dahulu kita mengetahui/mencari tahu devinisi bidah menurut para cerdikpandai barulah kita mengejar tahu devinisi tahlilan dan yasinan,setelah kita tahu devinisi keduanya hangat kita menginterpretasikan apakh tahlilan dan yasinan tersebut dusta dholalah,atau sunnah.?
DEVINISI BID’AH
imam Syafi’i rahimahullah,seorang ulama besar pendiri madzhab syaafi’iyyah,mendefinisikan, bidah sbb,
ما أحدث يخالف كتابا أو سنة اأو أثرا أو اجماعا, فهذه البدعة الضلالة. وما أحدث من الخير, لا خلاف فيه لواحد من هذه الأصول, فهذه محدثة غير مذمومة.
“ bidah ialah apa-apa yang diadakan yang menyelisihi buku Allah dan sunah-NYA, atsar, alias ijma’ lalu inilah kebohongan yang batal mengenai ayat cakap yang diadakan, yang bukan menyelisihi keliru satu pun prinsip-prinsip ini maka bukan terkandung surah anyar yang tercela.”

penghantar keluarga Rojab rahimahullah berisi kitabnya yang bermahkota “ Jami’ul Ulum wal Hikam “ berujar apabila bidah adalah,
ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً ،

“ kebohongan adalah apa saja yang dibuat tanpa landasan syari’at. jika punya tumpuan postulat bernas syari’at, lalu bukan bidah dengan cara syari’at, meskipun termasuk dusta padat tinjauan bahasa.”

bernas makna dusta yang dikemukakan oleh para cerdikpandai di berlandaskan bukankah piawai difahami kalau unit hangat namalain unit yang tidak tampak contohnya berpokok Rasulullah SAW itu dibagi dua merupakan unit baru yang sama sangat enggak memiliki alasannya berkualitas syare’at dan perkara baru yang terlihat dasarnya bernas syare’at. keluarga Rojab menentukan apabila hal hangat yang terdapat latarbelakangnya antep syare’at, itu tak cakap dipandang dusta dengan cara syare’at walaupun aktual ia terkandung kebohongan secara bahasa, dan andaikan sebuah ibadah disangka kebohongan selaku bahasa,tapi tak dengan cara syare’at,maka amalan tersebut kuasa dilakukan,selagi enggak memiliki nash yang tegas jelas melarangnya.

sesudah kita tahu devinisi kebohongan menurut para ‘ulama,sekarang yuk kita lihat devinisi tahlilan dan yasinan. Maulidan, Sholawatan, Tahlilan adalah tradisi islam Nusantara