Reader Comments

Tanoto Foundation Berkomitmen untuk Mendukung Pertumbuhan Inklusif Secara Maksimal

Anonymous User (2017-10-09)


tanoto foundation


Sustainable development goals (SDGs yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB merupakan bentuk penyempurnaan dari Millenium Development Goals (MDGs yang sudah berakhir pada tahun 2015. Sebagaimana MDGs, SDGs juga mencakup beberapa hal di antaranya pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan lingkungan hidup.



Pada sektor pendidikan, SDGs menargetkan pendidikan yang berkualitas dan bersifat inklusif.serta merata. Bersifat inklusif berarti pendidikan harus terbuka untuk semua kalangan termasuk kalangan yang kurang beruntung dan yang mengalami disabilitas. Untuk mencapai hal ini diperlukan kerja sama berbagai pihak, mengingat saat ini pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya terbuka dan dapat diakses oleh kalangan penyandang disabilitas dan masyarakat kurang mampu.



Tanoto foundation yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan istri Tinah Bingei Tanoto, sejak awal telah berupaya dalam peningkatan mutu dan akses terhadap pendidikan. Sejak mendirikan sekolah dasar dan taman kanak-kanak di daerah rural Besitang, Sumatera Utara pada tahun 1981, Tanoto Foundation hingga saat ini telah berdedikasi untuk memeratakan akses terhadap pendidikan untuk semua kalangan melalui program pendidikan, pemberdayaan dan penguatan yang dimilikinya.



Selain itu Tanoto Foundation juga berkomitmen memberikan beasiswa pendidikan senilai ratusan juta rupiah tiap tahunnya, dimana target dari beasiswa ini adalah para siswa dan mahasiswa yang kurang mampu serta para guru.



Dewan pengawas Tanoto Foundation, Belinda Tanoto baru-baru ini memiliki kesempatkan untuk berbagi pandangan Tanoto Foundation mengenai peningkatan pertumbuhan inklusif di program diskusi panel Perspective, Channel NewsAsia Flagship yang diselenggarakan di Singapore Management University. Pada diskusi panel tersebut Belinda Tanoto tampil sebagai salah satu panelis berdampingan dengan Professor Lily Kong dari Singapore Management University, Presiden Masyarakat Difabel Singapura Chia Yong Yong dan CEO Pusat Relawan dan Filantropis Melissa Kwee. Diskusi panel tersebut dimoderatori oleh jurnalis senior Sharon Tong.



Pada diskusi panel yang mengambil tema “membangun masyarakat inklusif” tersebut Belinda Tanoto menjelaskan bahwa akses terhadap pendidikan yang mengajarkan ilmu dasar seperti matematika, sains dan membaca serta kerjasama dengan pemangku kebijakan seperti pemerintah, masyarakat lokal dan lembaga swadaya masyarakat untuk menciptakan solusi menyeluruh sangat diperlukan untuk membangun pertumbuhan inklusif.



Untuk kedua kalinya Belinda Tanoto bertindak sebagai panelis dalam diskusi panel yang sama. Sebelumnya, pada diskusi panel di tahun 2015 Belinda Tanoto mengadvokasikan pendekatan kolaboratif antar pemangku kepentingan untuk melawan ketidaksetaraan di Asia.



Baru-baru ini, dalam sebuah interview dengan National University of Singapore Belinda Tanoto bercerita bahwa ketika Belinda masih anak-anak, sang ayah Sukanto Tanoto dan sang ibu Tinah Bingei Tanoto sering kali mengajak Belinda dan saudara-saudaranya ke panti asuhan untuk berbagi dengan anak asuh di panti asuhan. Di sana mereka berbagi mainan, dengan maksud untuk belajar semakin banyak seseorang memiliki, semakin banyak yang perlu dibagikan.