Hubungan Konsumsi Ultra-Processed Food (UPF) dengan Derajat Dismenore pada Mahasiswi Kebidanan di Tulungagung

Authors

  • Oktaviana Manda Putri STIKES Hutama Abdi Husada Tulungagung
  • Siti Suciati STIKES Hutama Abdi Husada Tulungagung
  • Poppy Farasari STIKES Hutama Abdi Husada Tulungagung
  • Friska Oktaviana STIKES Hutama Abdi Husada Tulungagung

DOI:

https://doi.org/10.25139/htc.v9i1.12003

Keywords:

Dismenore Primer, Pola Makan, Ultra-Processed Food (UPF)

Abstract

Abstrak : Dismenore primer merupakan masalah yang sering dialami perempuan usia reproduksi dan dapat menurunkan kualitas hidup serta produktivitas. Salah satu faktor yang diduga berperan adalah pola konsumsi Ultra-Processed Food (UPF) yang cenderung tinggi lemak, gula, dan zat tambahan, sehingga berpotensi memicu inflamasi dan gangguan keseimbangan hormon. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara konsumsi UPF dengan derajat dismenore primer pada mahasiswi kebidanan di Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional dari 35 responden. Pengukuran konsumsi UPF dilakukan melalui kuesioner FFQ, sedangkan tingkat nyeri diukur menggunakan skala NRS, kemudian dianalisis dengan uji Chi-Square dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pola konsumsi UPF tinggi (74,3%) dan sebagian besar mengalami nyeri menstruasi kategori berat (71,4%). Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel (p < 0,05) dengan kekuatan korelasi yang sangat kuat (r = 0,933). Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi UPF sejalan dengan meningkatnya tingkat keparahan dismenore. Dengan demikian, perbaikan pola makan melalui pengurangan konsumsi makanan dapat menjadi salah satu langkah preventif dalam menjaga kesehatan reproduksi perempuan.

Abstrak: Dismenore primer adalah kondisi umum di kalangan wanita usia reproduktif yang dapat berdampak negatif pada aktivitas sehari-hari, kualitas hidup, dan produktivitas. Kebiasaan makan, khususnya konsumsi Makanan Ultra-Olah (UPF) yang sering, diduga berkontribusi terhadap kondisi ini karena kandungan lemak, gula, dan aditifnya yang tinggi, yang dapat memicu peradangan dan ketidakseimbangan hormon. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki hubungan antara tingkat keparahan dismenore primer dan konsumsi UPF pada mahasiswa kebidanan Tulungagung. Sebanyak 35 responden berpartisipasi dalam penelitian observasional analitik potong lintang. Kuesioner Frekuensi Makanan (FFQ) digunakan untuk mengukur konsumsi UPF, dan Skala Peringkat Numerik (NRS) digunakan untuk mengukur intensitas nyeri. Uji Chi-Square dan korelasi Spearman digunakan untuk menilai data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki konsumsi UPF yang tinggi (74,3%), dan sebagian besar mengalami nyeri menstruasi yang parah (71,4%). Analisis statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara konsumsi UPF dan tingkat keparahan dismenore (p < 0,05), dengan korelasi positif yang sangat kuat (r = 0,933). Temuan ini menyiratkan bahwa asupan UPF yang lebih banyak dikaitkan dengan dismenore yang lebih parah. Oleh karena itu, meningkatkan kebiasaan makan dengan mengurangi konsumsi makanan olahan dapat menjadi strategi pencegahan yang bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan reproduksi wanita.

References

[1] M. Sommer, J. Hennegan, A. Muralidharan, C. W. Kabiru, T. Mahon, and P. A. Phillips-howard, “Adolescent menstrual health must go beyond pads,” pp. 1–5, 2025, doi: 10.1136/bmj-2023-077515.
[2] J. Harvey et al., “Adolescents , menstruation , and physical activity : insights from a global scoping review,” BMC Womens. Health, 2025, doi: 10.1186/s12905-025-03825-w.
[3] A. A. Medhanyie and T. G. Gebrehiwet, “‘ Menstruation is a Fearful Thing ’: A Qualitative Exploration of Menstrual Experiences and Sources of Information About Menstruation Among Adolescent Schoolgirls,” no. May, pp. 881–892, 2023.
[4] K. A. Mckenna, C. D. Fogleman, and P. M. Lancaster, “Dysmenorrhea,” vol. 104, no. 2, 2021.
[5] D. N. Suhaid, L. P. Widowati, N. Nyoman, and S. Artina, “The Relationship Between Menstrual Length and Menstrual Cycle with Dysmenorrhea in High School Students,” vol. 8, no. 1, 2023.
[6] M. Burnett and M. Lemyre, “No . 345-Primary Dysmenorrhea Consensus Guideline,” vol. 39, no. 7, pp. 585–595, 2017, doi: 10.1016/j.jogc.2016.12.023.
[7] R. Itani, L. Soubra, S. Karout, D. Rahme, L. Karout, and H. M. J. Khojah, “Primary Dysmenorrhea : Pathophysiology , Diagnosis , and Treatment Updates,” pp. 101–108, 2022.
[8] S. Iacovides, I. Avidon, and F. C. Baker, “What we know about primary dysmenorrhea today : a critical review,” vol. 0, no. 0, pp. 1–17, 2015, doi: 10.1093/humupd/dmv039.
[9] R. M. A. Silaen, L. S. Ani, and W. C. W. S. Putri, “PREVALENSI DYSMENORRHEA DAN KARAKTERISTIKNYA PADA REMAJA PUTRI DI DENPASAR,” vol. 8, no. 11, pp. 1–6, 2019.
[10] H. Situmorang, R. L. Sutanto, K. Tjoa, R. Rivaldo, and M. Adrian, “Prevalence and risk factors of primary dysmenorrhoea among medical students : a cross- ­ sectional survey in Indonesia,” pp. 1–9, 2024, doi: 10.1136/bmjopen-2024-086052.
[11] S. I. Prakasiwi and F. N. Damayanti, “Relationship Between Menarch Age and Dysmenorrhea Pain in Female Students,” vol. 12, no. 2, pp. 85–90, 2023, doi: 10.26714/jk.12.2.2023.85-90.
[12] M. Bodur, “Premenstrual Syndrome , Ultra- ­ Processed Food Intake , and Food Cravings : A New Perspective,” pp. 1–9, 2025, doi: 10.1002/fsn3.70520.
[13] A. Ghosh and A. Muley, “Ultra-Processed Food Consumption Among College Students and Their Association With Body Composition , Bowel Movements and Menstrual Cycle,” vol. 70, no. April, pp. 1–9, 2025, doi: 10.3389/ijph.2025.1607712.
[14] A. Lutfia, W. Ningrum, S. Julyani, M. Fujiko, and D. F. Utami, “Relationship between Diet using Food Frequency Questionnaire and The Incidence of Dysmenorrhea,” vol. 7, no. 2, pp. 88–97, 2025, doi: 10.33096/gmj.v7i2.168.
[15] S. U. Makhfirah and S. Y. Lubis, “Hubungan Kebiasaan Konsumsi Fast Food dan Stres Dengan Kejadian Dismenorea Pada Siswi MAN 3 Kota Banda Aceh,” vol. 3, pp. 1851–1859, 2025.
[16] Khairunnisa, Sajiman, and R. Anwar, “Hubungan Konsumsi Fast Food, Aktivitas Fisik dan Tingkat Stres Dengan Derajat Nyeri Dismenore Primer,” vol. 07, no. 01, pp. 18–28, 2025.
[17] V. Kurnia, S. Labasengko, H. Jusuf, and N. Arsad, “Hubungan Tingkat Stres Dan Pola Konsumsi Makanan Cepat Saji Dengan Dismenore Pada Remaja Putri Di SMA Negeri 3 Gorontalo The Relationship Between Stress Levels and Fast Food Consumption Patterns and Dysmenorrhea in Adolescent Girls at State Senior High School 3 Gorontalo,” vol. 8, no. 9, pp. 6004–6013, 2025, doi: 10.56338/jks.v8i9.8739.
[18] R. Fritz, C. Lister, J. Lina, P. U. I. P. Degenerative, L. Medicine, and U. P. Indonesia, “Hubungan Konsumsi Ultraprocessed Food Terhadap Emotional Intelligence dikonsumsi . Konsumsi UPF yang tinggi pada mahasiswa dikaitkan dengan pola makan yang,” vol. 6, no. 12, pp. 5501–5509, 2025.

Downloads

Published

2026-06-24