Determinisme Otak vs. Kehendak Bebas: Tantangan Neurosains terhadap Pertanggungjawaban Pidana di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.25139/lex.v10i2.11941Keywords:
Determinisme, Kehendak Bebas, Neurosains, Pertanggungjawaban Pidana, KUHP 2023Abstract
Artikel ini mengeksplorasi ketegangan antara determinisme biologis yang disodorkan oleh kemajuan neurosains dengan doktrin kehendak bebas yang menjadi pilar pertanggungjawaban pidana di Indonesia. Fokus penelitian ini adalah pada implikasi temuan neurosains terhadap konsep mens rea dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional 2023 dan tantangan pembuktian bukti ilmiah neurosains dalam hukum acara pidana (KUHAP). Menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan perundang-undangan, penelitian ini menemukan bahwa struktur otak tertentu, seperti sirkuit amigdala-korteks prefrontal, memiliki peran krusial dalam kontrol impuls dan penilaian moral. Namun, kerangka hukum Indonesia saat ini masih kekurangan instrumen normatif untuk mengakomodasi kompleksitas biologis tersebut, sehingga berisiko menciptakan asimetri epistemik dan bias dalam adjudikasi. Hasil penelitian menunjukkan perlunya rekonstruksi konsep kesalahan yang tidak lagi berbasis biner melainkan spektral, serta pembentukan standar admisibilitas bukti ilmiah yang lebih ketat untuk memastikan keadilan substantif di era saintifik.
References
Ainurrisma, N., Permatasari, N., Nixon, M., Maulina, M., & Eviningrum, S. (2025). KUHP Nasional dan Paradigma Baru Penegakan Hukum Pidana: Menuju Sistem Hukum Yang Responsif dan Progresif. Conference On Law and Social Studies. https://prosiding.unipma.ac.id/index.php/COLaS/article/view/8285
Dharmawan, A. D., & Ramadanti, N. K. (2024). Pidana Alternatif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Kaitannya dengan Tujuan Pemidanaan. Presidensial: Jurnal Hukum, Administrasi Negara, Dan Kebijakan Publik, 1(4), 85–92.
Fernando, Z. J., Agusalim, Utami, R. A., Albariansyah, H., & Sacipto, R. (2025). Neurolaw: A Concept in Development and Enforcement of Criminal Law in Indonesia. Jambura Law Review, 7(1). https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jalrev/article/view/24144
Fernando, Z. J., & Kusumah, F. (2025). Integrating Neurolaw in Environmental Crimes and Strengthening Victim Protection in Criminal Liability Discourse. Southeast Asian Journal of Victimology, 3(1), 1–23.
Jubaidi, D., Khoirunnisa, K., Indriastuti, D., & Maharani, S. (2025). Moral Dilemmas and the Accountability of Criminal Offenders: A Neuroethical Perspective on Decision-Making in the Indonesian Criminal Justice System. Legitimasi Jurnal Hukum Pidana Dan Politik Hukum, 14(2), 274–295.
Kabir, S. F. (2019). Kejahatan dan Hukuman: Tantangan Filosofis Determinisme-Kausal terhadap Pertanggungjawaban Pidana. Jurnal Hukum & Pembangunan, 49(2), 279–298.
Kadir, Z. K. (2025a). Bayang-Bayang Lombroso: Epigenetika dan Kembalinya Pendekatan Biologis dalam Hukum Pidana. Terang: Jurnal Kajian Ilmu Sosial, Politik Dan Hukum, 2(3), 37–50.
Kadir, Z. K. (2025b). Dapatkah Otak yang Rusak Bertanggung Jawab? Disrupsi Amigdala–PFC dan Rekonstruksi Moralitas dalam Hukum Pidana. Jurnal Politik, Sosial, Hukum Dan Humaniora, 3(3), 290–305.
Kadir, Z. K. (2025c). Neurokriminologi dan Ilusi Kesengajaan: Mengapa Bukti Neurologis Tidak Dapat Menggantikan Mens Rea. Crossroad Research Journal, 2(5), 1–18.
Kadir, Z. K. (2026). Neurocriminology and the Next Generation of Criminological Theory: Integration, Limits, and Ethical Risks. https://www.researchgate.net/publication/401497978_Neurocriminology_and_the_Next_Generation_of_Criminological_Theory_Integration_Limits_and_Ethical_Risks
Kadir, Z. K., & Mappaselleng, N. F. (2026). Neurocriminology and evidentiary standards in Indonesian courts. Priviet Social Sciences Journal, 6(1), 579–588.
Kadir, Z. K., Mappaselleng, N. F., & Kadir, N. K. (2025). Neurokriminologi dan Transformasi Doktrin Hukum Pidana. Rio Law Jurnal, 6(2), 1126–1140.
Kartono, Warnasouda, S. Y., Lagustiani, S. H., Koesoemo, S., Hastuti, S., Alwahdy, J. A., Sosiawan, U. M., & Nunna, B. P. (2026). Reconstruction of the Guilt Concept in the 2023 Indonesian Criminal Code from a Neurolaw Perspective. Jurnal Hukum Unissula, 42(1). https://jurnal.unissula.ac.id/index.php/jurnalhukum/article/view/48576
Korner. (2022). Mengenal Asas Tiada Pidana Tanpa Kesalahan (Geen Straf Zonder Schuld). https://korner.id/blog/mengenal-asas-tiada-pidana-tanpa-kesalahan-geen-straf-zonder-schuld
Nainggolan, M. (2025). Transformasi Penegakan Hukum Pidana dalam KUHP Baru. https://dandapala.com/opini/detail/transformasi-penegakan-hukum-pidana-dalam-kuhp-baru
Rahmawati, A., Isnaeni, S., Laela, C. H., Asmara, T., & Waluyadi. (2025). The Neurolaw Perspective on Criminal Responsibility of Children in Indonesia. Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia, 10(5), 4841–4849.
Rosikhu, M., & Taufik, Z. (2024). Kedudukan Bukti Tidak Langsung sebagai Alat Bukti dalam Perkara Pidana. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, 4(3), 18425–18433.
Sa’adah, R. (2025). Analisis Implementasi KUHP Nasional UU No. 1 Tahun 2023. Jurnal Globalisasi Hukum. https://www.researchgate.net/publication/397705891_ANALISIS_IMPLEMENTASI_KUHP_NASIONAL_UU_No1_tahun_2023
Saptama, D. A., Putri, A. R., Indradjaja, N., & Chamdani. (2024). Neurolaw and Child Age Limit in Criminal Responsibility. Wijaya Putra Law Review, 3(1), 21–38.