Evaluasi Program Pelatihan Digital Entrepreneurship Academy (DEA) Untuk UMKM di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika (BPSDMP Kominfo) Surabaya
Keywords:
Policy Evaluation, Digital Entrepreneurship Academy, Digital Literacy, Digital Transformation, UMKMAbstract
Transformasi digital telah menjadi kebutuhan mendesak bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia untuk meningkatkan daya saing dalam era ekonomi digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan program DEA di BPSDMP Kominfo Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Evaluasi yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan pendekatan evaluasi kebijakan William N. Dunn yang mencakup enam indikator utama: efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, dan ketepatan. Fokus penelitian pada penelitian ini meliputi enam indikator yang digunakan untuk mengevaluasi program pelatihan DEA yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, dan ketepatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas Program DEA terbukti dalam meningkatkan keterampilan digital UMKM dengan jumlah peserta yang seringkali melebihi target, sementara dari segi efisiensi pelatihan daring mampu menjangkau lebih banyak peserta. Pelatihan ini cukup menjadi solusi bagi permasalahan UMKM di bidang marketing digital dan peserta secara merata mendapatkan bantuan apabila memiliki kendala dengan respon tim pelaksana yang sigap. Selain itu, pelatihan ini sangat tepat karena selalu memperbarui materi yang relevan dari tahun ke tahun. Serta adanya faktor pendukung program ini yaitu meningkatkan literasi peserta dan tim pelaksana yang tanggap dalam kelancaran pelaksanaan, kemudian faktor penghambat yang terjadi dalam pelatihan DEA yakni peserta yang memiliki ketidaksetaraan teknologi dan jaringan, literasi digitalisasi yang rendah, serta meyakinkan peserta. Saran dalam penelitian ini adalah dengan mengembangkan sistem pelatihan hybrid untuk menjangkau keterbatasan peserta yang memiliki kendala jaringan serta memberikan lebih banyak praktik yang dilakukan.
